Para ulama kita telah berbicara tentang hukum demonstrasi dan aksi keluar ke jalan-jalan dalam rangka menuntut hak
http://www.calameo.com/read/000131910a921f408ac48
Sabtu, 25 Februari 2017
Jumat, 17 Juni 2016
Ancaman Mengerikan bagi Mereka yang Lancang Berbuka di Siang Hari Romadhon sebelum Matahari Tenggelam
Ancaman Mengerikan bagi Mereka yang Lancang Berbuka di Siang Hari Romadhon sebelum Matahari Tenggelam
oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah
-hafizhahullah-
Beberapa hari lalu, manusia Indonesia
ramai memperbincangkan tentang kasus Ibu Saeni –semoga Allah memberinya
hidayah- yang buka warung di siang hari di Bulan Romadhon, sehingga membuat
para Satpol PP Serang, Banten, merasa geram.
Pasalnya, sudah ada PERDA pelarangan buka warung di siang hari selama Bulan Romadhon. Kemudian kasus ini menuai pro-kontra, sebagaimana dilansir oleh media elektronik 'detik.com'[1]
Pasalnya, sudah ada PERDA pelarangan buka warung di siang hari selama Bulan Romadhon. Kemudian kasus ini menuai pro-kontra, sebagaimana dilansir oleh media elektronik 'detik.com'[1]
Kasus ini memanggil kami untuk
menuangkan pena ilmu padanya sebagai sebuah renungan bagi kita dan sebagai
tanggung jawab ilmiah yang harus kami tunaikan di hadapan Allah -Azza wa
Jalla-
Hendaknya ia tidak berbuka di siang
hari Bulan Romadhon, tanpa ada udzur (alasan yang dibenarkan dalam syariat),
sebagaimana halnya ia tidak menenggak khomer (minuman keras atau narkoba),
tidak berzina, tidak meng-ghibah (menceritakan aib orang lain), serta tidak
melakukan dosa apapun.
Jika ia tidak demikian, maka ia akan menjadi orang-orang yang terhalangi dari pahala, lagi terusir dari rahmat Allah Pencipta makhluk. Dosa-dosa mereka akan dilipatgandakan!!" [Lihat Irsyadul Haqq ila Dinil Haqq (8/367)]
Jika ia tidak demikian, maka ia akan menjadi orang-orang yang terhalangi dari pahala, lagi terusir dari rahmat Allah Pencipta makhluk. Dosa-dosa mereka akan dilipatgandakan!!" [Lihat Irsyadul Haqq ila Dinil Haqq (8/367)]
Minggu, 05 Juni 2016
Nukilan-nukilan Atsar dari Para Salaf Sholih tentang Kebahagiaan dan Gelora Kerinduan Mereka kepada Bulan Romadhon

Nukilan-nukilan Atsar dari
Para Salaf Sholih
tentang Kebahagiaan dan Gelora
Kerinduan Mereka
kepada Bulan Romadhon
kepada Bulan Romadhon
oleh : Ustadz Abdul Qodir
Abu Fa'izah -hafizhahullah-
Kerinduan
kepada Bulan Romadhon di sisi para salaf (Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,
para sahabat, tabi'in dan pengikut setia mereka), bagaikan api yang membara,
tak akan padam oleh badai sekencang apapun.
Diantara
mereka, ada yang menangis saat mengenang Bulan Romadhon yang baru saja berlalu.
Mereka menangis disebabkan karena khawatir apa yang mereka kerjakan di Bulan
Romadhon yang baru saja berlalu, tidak diterima di sisi Allah -Azza wa
Jalla-. Mereka juga khawatir jangan sampai ajal menjemput sebelum ia
berjumpa dengan Bulan Romadhon.
Jauh
hari sebelum datangnya Bulan Romadhon, mereka senantiasa berdoa kepada Allah -Tabaroka
wa Ta'ala- agar dipertemukan lagi dengan Bulan Romadhon.
Al-Imam
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,
قَالَ
بَعْضُ السَّلَفُ : كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ
شَهْرَ رَمَضَانَ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
"Sebagian salaf berkata,
"Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka
disampaikan kepada Bulan Romadhon. Kemudian mereka juga berdoa selama 6 bulan
agar Allah menerima (amal-amal sholih di bulan suci itu) dari mereka." [Lihat Latho'if Al-Ma'arif (hal. 232)]
Jumat, 20 Mei 2016
Batas Menstruasi (Haidh) dan Istihadhoh, serta Tata Cara Ibadah bagi Wanita yang Mengalami Dua Hal itu.
Batas Menstruasi (Haidh) dan Istihadhoh, serta Tata Cara Ibadah bagi Wanita yang Mengalami Dua Hal itu
Tanya :
Assalaamualaikum wrwb.
Ust/ustz, berapa lamakah menstruasi yang normal itu?
Jika menstruasinya lebih dari 2 minggu, bagaimana caranya
mau melaksanakan shalat, puasa, haji /umroh atau ibadah lainnya? Trims
jawabannya ust/ustz
Jawab Ustadz :
Wa alaikumus salam wa rohmatullohi
wa barokatuh.
Alhamdulillah wash sholatu was salamu ala nabiyyina wa
ala alihi wa shohbihi ajma'in.
Rabu, 18 Mei 2016
Hukum Mengadakan Acara dalam Mengenang Orang Tua yang Sudah Wafat
Hukum Mengadakan Acara dalam Mengenang Orang
Tua yang Sudah Wafat
Pertanyaan :
Ustadz, afwan, mau bertanya :
السلام عليكم ورحمة
الله وبركاته
Bolehkah –misal- mendatangi panti anak yatim, kemudian
menyantuni mereka, kemudian baca AlQuran bareng mereka & kemudian juga
meminta para anak yatim untuk ikut mendoakan almarhum bapak mereka?
Nb. Keluarga ini masih belajar ilmu agama yg sunnah dan
butuh bimbingan untuk mendoakan alm bapak mereka..
شكرا جزاك الله خيرا
بارك
الله فيكم
Kamis, 12 Mei 2016
Kisah Ajaib Para Salaf dalam Bersedekah
Kisah Ajaib Para Salaf
dalam Bersedekah
dalam Bersedekah
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
oleh : Ustadz Abul Abdul Qodir, Lc.
:::::::::
Sebuah
kebiasaan salaf yang amat ajaib, kesungguhan dan keikhlasan mereka dalam
bersedekah. Sekali pun sedikit, mereka tetap bersedekah kepada fakir-miskin.
Yazid
bin Abi Habib -rahimahullah- berkata tentang diri seorang tabi'in
bernama "Martsad bin
Abdillah Al-Yazaniy" -rahimahullah-
:
كَانَ أَوَّلُ أَهْلِ مِصْرَ يَرُوحُ
إِلَى الْمَسْجِدِ ، وَمَا رَأَيْتُهُ دَاخِلاً الْمَسْجِدَ قَطُّ إِلاَّ وَفِي
كُمِّهِ صَدَقَةٌ ، إِمَّا فُلُوسٌ ، وَإِمَّا خُبْزٌ ، وَإِمَّا قَمْحٌ حَتَّى
رُبَّمَا رَأَيْتُ الْبَصَلَ يَحْمِلُهُ ،
قَالَ : فَأَقُولُ يَا أَبَا
الْخَيْرِ إِنَّ هَذَا يُنْتِنُ ثِيَابَكَ ،
قَالَ : فَيَقُولُ : يَا ابْنَ
حَبِيبٍ أَمَا إِنِّي لَمْ أَجِدْ فِي الْبَيْتِ شَيْئًا أَتَصَدَّقُ بِهِ
غَيْرَهُ ،
إِنَّهُ حَدَّثَنِي رَجُلٌ مِنْ
أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،
قَالَ : ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ.
"Beliau (Martsad Al-Yazaniy) orang Mesir yang paling awal
berangkat ke masjid. Tidak pernah aku melihatnya masuk masjid sama sekali,
melainkan di kantongnya terdapat sedekah, entah berupa uang, roti, atau gandum
sampai aku pernah melihat bawang merah yang beliau bawa.
Selasa, 10 Mei 2016
Duduk Tasyahhud yang Benar
Duduk Tasyahhud yang
Benar
oleh : Ustadz Abul
Asybal, Lc.
Banyak
teman yang bertanya kepada kami tentang posisi duduk tasyahhud, saat seseorang
melakukan sholat satu atau dua raka'at. Mereka bertanya-tanya seperti ini,
karena melihat realita di tengah kaum muslimin berupa adanya sebagian kaum
muslimin yang melakukan tawarruk (duduk sambil menyentuhkan pantat kiri di
lantai) saat sholat satu atau dua raka'at, dan ada juga yang duduk iftirosy
(duduk di atas telapak kaki kiri).
Menjawab
simpang-siur seperti ini, ada baiknya kami bawakan jawabannya dengan mengambil
dan menyarikan fatwa ulama Al-Lajnah Ad-Da'imah (7/15)
Duduk
tawarruk atau iftirosy ketika tasyahhud dalam sholat dua raka'at termasuk
perkara ijtihadiyyah, para ulama fiqih berselisih pendapat padanya. Ada yang berpendapat bahwa
ia iftirosy-kan (bentangkan) telapak kaki kirinya, dan menegakkan kaki kanannya,
sambil duduk di atas telapak kaki kiri.
Langganan:
Postingan (Atom)

